Senin, 27 Desember 2021

MENJADI GURU SUGESTIF DI ERA PANDEMI COVID_19

 

MENJADI GURU SUGESTIF DI ERA PANDEMI COVID_19

Oleh: Izatul Laela, S.Si

SMPN 2 Wonorejo

 

Tujuan Pendidikan Nasional Menurut Undang-undang No.20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 2 adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sehingga, tantangan sebesar apapun harus bisa diatasi dan menjadi tanggung jawab bersama.

Masa Pandemi Covid-19 membuat pola pendidikan berubah. Semula proses belajar mengajar dilakukan dengan tatap muka. Tetapi kini, proses belajar mengajar dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan jaringan internet, serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Dari segi manfaat, dilakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) telah menjejakkan proses pendidikan di tanah air ke arah digitalisasi.

Banyak orang menyatakan bahwa profesi guru pekerjaan yang mulia karena memiliki peranan penting dalam mengubah dan membawa masa depan seorang anak. Tugas dan peran seorang guru mengubah ketidaktahuan menjadi mengerti, mengubah kebodohan menjadi pintar. Selain itu, tingkah laku guru menjadi panutan, inspirasi, dan motivasi bagi semua orang. Inilah yang menjadi nilai lebih profesi guru dibandingkan profesi lain. Eksistensi seorang guru sangat ditentukan oleh kapasitas yang dimiliki karena menjadi manusia pembelajar sebuah kepastian yang harus ditempuh. Belajar pengetahuan, belajar bagaimana menghadapi situasi yang berbeda, belajar memperbaiki diri, belajar untuk bangkit, dan akhirnya belajar kapan saja dan dengan siapa saja.

Guru bukan hanya sebatas memberikan pelajaran, melainkan membimbing serta memberikan perhatian dan kasih sayang kepada peserta didiknya. Wajar jika banyak yang menyebut guru mempunyai jasa yang besar. Bahkan, guru dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa karena pengorbanan dan pengabdian mereka kerap ditepikan.

Guru di masa pandemi Covid-19 mempunyai tantangan tersendiri. Guru tetap menjadi penggerak dan pembina yang memiliki kemampuan luar biasa untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Peran guru di masa pandemi saat ini dituntut melaksanakan banyak peran tambahan. Seperti, memastikan tercapainya tujuan pendidikan dan pemenuhan target akademis dan non-akademis serta mempersiapkan materi dan hasil evaluasi pembelajaran. Guru juga memiliki tanggung jawab dalam memastikan keselamatan peserta didik secara fisik dan psikis serta harus dapat melakukan komunikasi dan mengembangkan kerja sama yang baik dengan kepala sekolah dan orang tua/keluarga peserta didik untuk membangun kepercayaan dan mendukung proses pendidikan.

Demikian juga tuntutan kompetensi guru di masa pandemi Covid-19 ini, guru mempunyai kemampuan berinovasi, memanfaatkan bermacam digital tools, menyelenggarakan kelas online, penerapan kurikulum yang memperkuat model multidisiplin dan kolaboratif dalam belajar mengajar serta kemampuan menata ulang akuntabilitas dan menentukan metode dalam proses asesmen. Dalam menyelenggarakan pendidikan, guru harus bisa membantu peserta didik berkembang secara akademis, fisik, dan psikis, dengan menyeimbangkan antara old knowledge dengan mekanisme digital.

Menjalankan tugas sebagai guru di masa pandemi Covid-19 memang penuh dengan tantangan. Mulai dari persiapan administrasi mengajar yang harus disesuaikan dengan kebijakan terbaru, seperti kurikulum darurat, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disederhanakan, pembelajaran jarak jauh (PJJ), program Guru Penggerak dan sebagainya. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menyatakan, prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 adalah mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga bahkan masyarakat secara umum. Dengan demikian, tugas guru dalam memenuhi pelayanan pendidikan selama pandemi Covid-19 tidak hanya persoalan belajar mengajar, melainkan dibutuhkan pertimbangan yang besar terkait kondisi psikososial dan tumbuh kembang peserta didik.

Tak mudah melakukan aktivitas belajar mengajar saat pandemi Covid-19. Guru harus memperhatikan peserta didik tidak hanya melalui daring, tapi juga harus mengunjungi
rumah peserta didik agar tetap terjaga hubungan baik antara orang tua dan peserta didik. Upaya tersebut guna memantau kendala yang dialami ketika pembelajaran melalui daring serta memantau kesehatan dan perkembangan pengetahuan peserta didik. Guru berupaya menyusun ulang kurikulum yang sesuai konteks dalam RPP.

Pembaharuan dalam pendidikan perlu proses perencanaan yang matang, sedangkan pandemi ini datang begitu cepat dan tak terduga sehingga guru belum memiliki perencanaan yang baik. Sekali lagi, guru mempunyai peranan dari tatanan pendidikan Indonesia yang terus dituntut untuk mencerdaskan anak bangsa meski di kondisi sesulit apa pun. 

Peran guru di tengah pandemi memang jarang disebut sebagai garda terdepan “melawan” Covid-19. Tapi, jangan pernah mengabaikan fungsi dan perannya. Jangan menilainya punya banyak waktu beristirahat semenjak ada kebijakan pemerintah memindahkan proses belajar ke rumah. Justru, masa sekarang guru mempunyai pekerjaan berlipat. Jauh lebih berat dibandingkan mengajar di dalam kelas. Jauh lebih sulit dibandingkan bertatap muka dengan peserta didik di sekolah, seperti sebelum masa pandemi Covid-19. Mereka tak mengenal istilah siang atau malam. 

Ada 3 tipe guru yang perlu kita pahami, yaitu

a.       guru bayar,

b.      guru nyasar, dan

c.       guru sadar.

Guru bayar digambarkan sebagai guru yang sangat besemangat saat TPP cair atau insentif turun. Semua pekerjaannya dinilai dengan uang. Bila tidak ada insentif, guru tipe ini malas untuk bekerja.

            Guru nyasar merupakan tipe guru yang tidak mencintai profesinya. Guru seperti ini asal-asalan saja dalam bekerja karena tidak bekerja dengan hati. Bisa jadi merupakan kompensasi karena tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh.

            Sedangkan guru sadar merupakan tipe ideal seorang guru. Memang seharusnya seperti itulah seorang guru. Bekerja dengan hati, niat karena Allah untuk ikut andil mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang sesuai dengan pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Benar-benar hari yang menguras pikiran dan waktu, terutama guru yang tidak mengabaikan tanggung jawabnya. Dalam masa pandemi Covid-19 ini, guru adalah pendekar dan pahlawan pembangunan seluruh bangsa di dunia. Adapun tentang bagaimana sikap guru terutama di era pandemi Covid_19 ini, juga dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

a.       guru santai

b.      guru tugas

c.       guru motivator

Guru santai menganggap masa pandemi sebagai hari yang santai, karena pembelajaran dilaksanakan tidak melaui tatap muka langsung. Sehingga hari-harinya santai tanpa terbebani dengan peserta didik. Pembelajaran bisa dilakukan dengan santai. Bahkan tidak jarang menghabiskan waktunya untuk hal lain yaitu bersenang-senang.

Tipe yang kedua yaitu guru tugas seringkali terjadi. Karena minimnya penguasaan IT sehingga guru kurang bisa berinovasi dalam pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran lebih mengarah pada pemberian tugas. Guru hanya memberikan ringkasan materi yang disampaikan kepada peserta didik baik melaui grup Whatsapp maupun Google Classroom ataupun media komunikasi yang lain tanpa ada upaya untuk menjelaskan. Kemudian peserta didik disuruh untuk mempelajari sendiri dan diberikan bonus untuk menyelesaikan tugas.

            Guru motivator merupakan guru yang sangat ditunggu kehadirannya oleh peserta didik. Guru dengan tipe ini memiliki mental yang tangguh karena mampu memotivasi peserta didik untuk belajar di tengah kondisi serba sulit seperti ini. Dia menganggap bahwa sekolah adalah bagian dari keluarganya yang butuh perhatian. Maka peserta didiknya juga dianggap sebagai anak sendiri.

Guru dihadapkan dengan berbagai persoalan, mulai dari sulitnya beradaptasi dengan teknis pembelajaran daring, turunnya motivasi belajar peserta didik, kurangnya kerjasama orang tua peserta didik sampai dengan membengkaknya biaya kuota. Meski dalam himpitan persoalan yang dihadapi, guru dituntut harus tetap profesional, kompetensi guru harus terus ditingkatkan demi keberlangsungan proses pembelajaran dan tercapainya tujuan pembelajaran itu sendiri. Tetunya ini menjadi tantangan besar bagi guru. Guru harus bisa menjadi motivator.

Beberapa hal yang dapat dilakukan guru sebagai motivator, antara lain yaitu:

1.      meluruskan niat bahwa bekerja adalah ibadah

2.      tidak pernah lelah dalam memberikan nasehat kepada para peserta didik,

3.      memiliki prinsip bahwa peserta didik dan segala hal yang terkait dengannya adalah ladang amal shalih untuk meraih pahala,

4.      selalu berpikir agar peserta didik semangat belajar,

5.      membangkitkan semangat peserta didik,

6.      tidak sekedar memberikan tugas,

7.      menciptakan vibrasi bahagia atau suasana bahagia,

8.      mengawali pagi menyapa peserta didik dengan penuh semangat,

9.      mampu menjadi contoh yang baik,

10.  menyediakan waktu untuk menerima segala curahan hati peserta didik,

11.  cepat merespon terhadap apa yang disampaikan peserta didik,

12.  berusaha mencarikan solusi saat peserta didik mengalami masalah

13.  menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua peserta didik.

Guru adalah soko utama pendidikan, kompetensi pedagogik, profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial adalah sebuah keniscayaan. Di masa pandemi covid-19 tantangan melaksanakan tanggungjawab keempat kompetensi tersebut. Guru seyogyanya lebih siap beradaptasi dengan segala kondisi. Guru memiliki peran ganda yakni bertanggungjawab pendidikan peserta didiknya, di sisi lain guru adalah kepala keluarga.

Di masa pandemi Covid-19 ini guru harus benar-benar eksis. Sebagai upaya untuk menyiapkan generai penerus bangsa, guru haruslah hebat dan bermental baja. Beberapa hal yang perlu disiapkan untuk menjadi guru hebat di masa pandemi Covid-19 ini, yaitu:

1.      Mampu membentuk mental sinergi

Guru harus bisa menyampaikan dan memberi motivasi kepada peserta didik bahwa sukses sendiri itu biasa dan sukses bersama-sama itu luar biasa. Sehingga peserta didik akan termotivasi untuk berkolaborasi dengan temannya untuk memecahkan persoalan dalam pembelajaran serta mencapai tujuan pembelajaran bersama-sama.

2.      Mampu membentuk mental proses

Guru harus bisa memberikan motivasi kepada peserta didik bahwa gagal itu biasa dan bangkit itu luar biasa. Bisa juga diceritakan tentang kisah sukses orang-orang hebat yang mengalami kegagalan pada awalnya kemudian mencapai kesuksesan berkat kerja keras, ketekunan dan berdoa.

Bisa juga disampaikan bahwa Allah itu menilai proses yang dilakukan bukan hasilnya.

3.      Mampu membentuk mental kreatif

Guru harus bisa memberikan motivasi kepada peserta didik agar kreatif tidak terpaku pada satu cara saja untuk mencapai suatu tujuan. Guru memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk memunculkan ide-ide kreatif yang bisa dituangkan dalam proses pembelajaran, tidak hanya dari buku paket atau dari guru saja.

4.      Mampu menciptakan peluang

Guru harus bisa menciptakan peluang yang besar kepada peserta didik untuk berkreasi semaksimal mungkin yang tentunya masih dalam tataran normatif sesuai dengan tujuan pembelajaran.

5.      Mampu menjalin building rapor atau mampu menjalin keakraban

Jika peserta didik sudah merasa dekat dengan guru maka akan mudah bagi guru untuk menembus critical area.

Jika building rapor  itu kuat maka akan mampu membangkitkan motivasi peserta didik

6.      Mampu menyamakan gelombang pikiran

Tujuannya adalah agar peserta didik bisa lebih fokus sehingga lebih mudah menerima materi pembelajaran.

Tugas guru adalah membantu peserta didik supaya bisa belajar, bukan mengajarinya. Supaya bisa belajar, peserta didik harus punya kesempatan.

Setelah punya ruang, peserta didik perlu merasa aman dan nyaman. Peserta didik akan merasa aman kalau aktivitasnya sesuai dengan tahap perkembangan dan kemampuannya, jelas apa yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai.
Selanjutnya, untuk bisa belajar
peserta didik perlu merasa bisa. Ini sebuah syarat mutlak. Keyakinan bahwa dirinya mampu merupakan bahan bakar yang mampu menghidupkan motivasi dan semangat, juga mengaktifkan neuron-neuron otak. Disinilah sebuah sugesti diperlukan. Guru hendaknya selalu mempompakan keyakinan ini. Tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga tindakan dan ekspresi.

Saat mendapat sugesti, peserta didik akan merasa dirinya berharga, mampu, dan mendapat dukungan. Hal ini membuatnya lebih mudah melangkah kerja, sebab mendapat kekuatan luar biasa dari dalam diri, yang kemudian membentuk niat yang kuat. Niat yang kuat akan mendapat dukungan dari lingkungan.

Jika peserta didik sudah merasa dekat dengan guru maka akan mudah bagi guru untuk menembus critical area. Menembus critical area ini dilakukan dengan suatu teknik yang dinamakan "induksi". Induksi bisa dilakukan dengan cara membuat pikiran sadar subjek dibuat sibuk, lengah, bosan, bingung (tidak memahami) atau lelah sehingga pintu gerbang menuju pikiran bawah sadar, yaitu critical area terbuka atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh guru untuk menembus critical area pada peserta didik, diantaranya yaitu:

1.      Repetisi

Merupakan pengulangan semua kata atau bentuk lain yang diulang mempunyai arti kata yang sama sekaligus memiliki makna tersirat yang sama, baik pada kalimat pertama, kedua, ketiga maupun lainnya adalah sama.

Jangan pernah menyerah untuk menasehati peserta didik. Itu kata kuncinya.

2.      Mampu membentuk mental proses

Sebagai guru harus meyakinkan pada peserta didik bahwa yang dinilai adalah prosesnya. Walaupun memperoleh hasil yang bagus tapi bila diperoleh dengan cara yang curang maka akan berpengaruh terhadap mental atau karakter yang terbentuk.

3.      Ide dari figur yang dipandang memiliki otoritas

Peserta didik akan lebih mudah menerima nasehat dari orang yang dianggap figur atau yang diidolakan. Maka menjadi guru sudah seharusnya menjadi figur yang bisa digugu dan ditiru.

4.      Emosi yang intens

Guru bukan hanya sekedar menjadi penyampai ilmu atau materi pelajaran. Tapi menjadi guru dalam menjalankan profesinya harus juga melibatkan hati, jiwa dan perasaan.

Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tetapi guru yang bermutu dapat melahirkan ribuan orang hebat. Guru adalah lentera hidup dan pahlawan tanpa tanda jasa.

 

 

(Inspired by Afif Hidayatulloh, penulis buku Guru Sugesti)

.                                                                                                   Lawang, 12 Februari 2021

 

Best Practice Pembelajaran IPA Dalam Rangka Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII A SMPN 2 WONOREJO Kabupaten Pasuruan Menggunakan Media Kartu Domino

 

Best Practice Pembelajaran IPA Dalam Rangka Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII A SMPN 2 WONOREJO Kabupaten Pasuruan

Menggunakan Media Kartu Domino

Izatul Laela

Guru IPA SMPN 2 Wonorejo

Jl. Masjid Babussalam Wonosari-Wonorejo

Surat elektronik: lizatul@yahoo.co.id

 

 

 

ABSTRAK

 

 

Secara umum  hasil belajar IPA siswa di SMPN 2 Wonorejo masih banyak yang belum mencapai KKM. Para guru sudah banyak melakukan upaya variasi dalam pembelajaran namun belum berdampak secara signifikan pada hasil yang dicapai siswa. Hal ini ditandai adanya penguasaan konsep yang lemah sehingga hasil belajar siswa kurang optimal. Oleh karenanya guru yang mengikuti Lesson Study berbasis MGMP selalu berusaha meningkatkan hasil belajar dengan berbagai RPP yang direncanakan bersama. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A di SMPN 2 Wonorejo dengan menerapkan  pembelajaran kooperatif model STAD menggunakan media kartu domino. Subyek penelitian siswa kelas VIIIA berjumlah 32 siswa.  Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kualitas dan hasil belajar siswa kelas VIIIA SMPN 2 Wonorejo  yaitu pada kegiatan diskusi kelompok  meningkat sebesar 6,72 %, sedangkan pada kegiatan presentasi kelas mengalami peningkatan 7,44% . Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD menggunakan media kartu domino  dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Wonorejo kabupaten Pasuruan meningkat sebesar 8,05 %.

    

 Kata kunci:  media kartu domino, hasil belajar.

 

 

 

Pendahuluan

 

SMPN 2 Wonorejo Kabupaten Pasuruan merupakan unit sekolah yang termasuk baru (berdiri tahun 2005) yang sudah berstandar nasional (SSN=Sekolah Standar Nasional). Penetapan kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk setiap mata pelajaran rata-rata adalah 75. Faktanya, secara umum  hasil belajar siswa masih banyak yang belum mencapai KKM. Hal tersebut dilatar belakangi adanya input (masukan) berupa siswa yang sedang bahkan rendah.  Para guru sudah banyak melakukan upaya variasi dalam pembelajaran. Tapi variasi pembelajaran ternyata belum berdampak secara signifikan pada hasil yang dicapai siswa. Hal ini ditandai adanya penguasaan konsep yang lemah sehingga hasil belajar siswa kurang optimal.

Berdasarkan hasil pengamatan di kelas serta diskusi dengan guru serumpun (mata pelajaran IPA) dapat diidentifikasi beberapa faktor permasalahan yang terjadi adalah sebagai berikut:

1. Metode pembelajaran yang digunakan belum tepat dan belum berdasarkan kebutuhan di kelas yang bersangkutan, tapi lebih karena tuntutan materi atau memenuhi tuntutan kurikulum.

2. Siswa kurang fokus pada saat pembelajaran dan lebih banyak melakukan aktifitas di luar aspek pembelajaran, misalnya ramai, main-main sendiri, membicarakan hal-hal di luar materi pelajaran.

Dari latar belakang tersebut, guru sebagai pendidik dituntut dapat menentukan strategi pembelajaran yang memungkinkan dapat menciptakan situasi pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM).

Dengan teridentifikasinya permasalahan tersebut, maka salah satu solusi yang akan diterapkan untuk memperbaiki kualitas atau hasil pembelajaran di SMPN 2 Wonorejo Kabupaten Pasuruan adalah menggunakan model STAD melalui media kartu domino. Aspek tersebut ditunjang pada perbaikan dari segala segi baik inovasi pembelajaran melalui penggunaan metode mapun media penunjang pembelajaran.

Untuk maksud tersebut penulis mencoba mengadopsi “Kartu Domino” menjadi suatu alternatif media penunjang pembelajaran dalam sebuah judul penelitian “Meningkatkan Hasil Belajar IPA-IPA Siswa Kelas VIII A SMPN 2 Wonorejo Kabupaten Pasuruan Menggunakan Model STAD Melalui Media Kartu Domino.”Penelitian ini diharapkan dapat mengatasi rendahnya kualitas pembelajaran IPA melalui penerapan pembelajaran kooperatif model STAD menggunakan kartu domino..

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat: 1) meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, 2) membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep IPA, 3) memberikan motivasi guru untuk pembelajaran selanjutnya yang berupa pembelajaran inovatif, kreatif dan berkualitas, 4) memberikan masukan kepada guru agar terbiasa dengan metode pembelajaran yang inovatif, kreatif dan berkualitas, 5) memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran guru guna peningkatan kualitas pembelajaran IPA.

 

Metode Penelitian

 

Penelitian ini menggunakan deskripsi. Populasi yang digunakan seluruh siswa kelas VIII A dengan jumlah 32. Data diambil dari hasil observasi dan tes pada materi Sistem Gerak di kelas VIII A SMP N 2 Wonorejo Kabupaten Pasuruan. Analisis data dengan deskripsi kuantitatif.

 

Hasil dan Pembahasan

 

Berdasarkan hasil analisa data dapat diperoleh kesimpulan sementara bahwa kualitas pembelajaran dan hasil belajar IPA siswa SMP Negeri 2 Wonorejo, Pasuruan dapat ditingkatkan melalui metode pembelajaran kooperatif model STAD menggunakan media kartu domino. Pada bab ini pembahasan difokuskan pada pelaksanaan tindakan yang meliputi aktifitas: (1) pelaksanaan diskusi kelompok, (2) presentasi lisan , (3) tes tertulis.

Nilai aktifitas diskusi kelompok, presentasi lisan, nilai rata-rata pada tes tertulis, ketuntasan belajar dan persentase peningkatan seluruh aktifitas pada data awal dan data awalI dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1. Analisis data nilai aktifitas diskusi kelompok, presentasi lisan dan nilai rata-rata tes tertulis serta ketuntasan belajar

No

Aspek yang diamati

Nilai

Peningkatan (%)

 Awal

Setelah Perlakuan

1

Diskusi Kelompok

76,78

81,94

6,72

2

Presentasi Lisan

74,75

80,31

7,44

3

Tes tertulis

  1. Rata-rata kelas
  2. % siswa yang tuntas belajar

 

69,56

53,13

(17 siswa)

 

75,16

68,75

(22 siswa)

 

8,05

29,40

 

Dari tabel 5.1 dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

a. Aktifitas diskusi kelompok setelah perlakuan menggunakan kartu domino mengalami peningkatan sebesar 6,72%

b. Kegiatan presentasi lisan setelah perlakuan menggunakan kartu domino mengalami peningkatan 7,44%

c. Rata-rata kelas setelah perlakuan menggunakan kartu domino mengalami peningkatan sebesar 8,05%

d. Persentase jumlah siswa yang tuntas belajar setelah perlakuan menggunakan kartu domino mengalami peningkatan sebesar 29,40% .

Dari analisis data di atas dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa:”Melalui Pembelajaran Kooperatif Model STAD Menggunakan Media Kartu Domino dapat Meningkatkan Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar IPA Siswa SMP Negeri 2 Wonorejo”.

a. Pelaksanaan diskusi kelompok

            Pada diskusi  kelompok diperoleh nilai rata-rata awal sebesar 76,78 dan setelah perlakuan menggunakan kartu domino sebesar 81,94. Jika dikaitkan dengan indikator proses pembelajaran dapat dikatakan bahwa perhatian siswa pada materi diskusi, keaktifan dalam mengikuti diskusi, menjawab pertanyaan sesuai maksud dan tujuan serta menghargai pendapat sesama teman peserta diskusi pada kondisi awal sudah baik dan mengalami peningkatan setelah perlakuan menggunakan kartu domino.

 

b. Presentasi lisan

            Aspek-aspek yang dinilai pada kegiatan presentasi lisan meliputi penggunaan konsep sains secara tepat, penyajian yang runtut, penggunaan bahasa yang baik serta memberi respon yang baik pada pertanyaan peserta lain. Data awal diperoleh nilai rata-rata 74,75 dan mengalami peningkatan sebesar 7,44% yaitu 80,31. Dalam hal ini kegiatan presentasi lisan sudah baik dan mengalami peningkatan setelah perlakuan menggunakan kartu domino.

c. Tes tertulis

            Nilai rata-rata kelas hasil tes tertulis pada data awal sebesar 69,56 dan setelah perlakuan menggunakan kartu domino 75,16 terjadi peningkatan sebesar 8,05% sedangkan siswa yang dinyatakan tuntas belajar pada data awal sebesar 53,13% dan data awal sebesar 68,75%, terjadi peningkatan sebesar 29,40%. Ini berarti bahwa pembelajaran kooperatif model STAD Menggunakan Media Kartu Domino yang dilakukan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar IPA siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Wonorejo. Proses pembelajaran dengan Standar Kompetensi Memahami Sistem Dalam Kehidupan Manusia dengan Kompetensi Dasar Sistem Gerak Pada Manusia ini menerapkan metode kooperatif model STAD menggunakan media kartu domino, dimana siswa secara aktif terlibat dalam pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran serta presentasi. Dengan keterlibatan secara kooperatif dalam pembelajaran, diantaranya melalui diskusi kelompok dan melaporkan atau mempresentasikan maka dalam kelompok akan terjadi tanggung jawab bersama, masing-masing anggota kelompok memberi sumbangan pemikiran kepada kelompok, membuat keputusan bersama, melakukan dialog untuk memecahkan masalah dan mereka dapat melakukan refleksi atas keberhasilan kelompok. Dengan cara kooperatif, maka keberhasilan kelompok dapat ditingkatkan sebab permasalahan dan pemecahan masalah dipikirkan bersama (Slavin dalam Ibrohim, 2000). Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok atas maupun kelompok bawah yang bekerjasama menyelesaikan tugas-tugas akademis mereka, kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah (Ibrohim, 2000). Dengan mengorganisasi siswa secara kooperatif maka proses belajar dan hasil belajar dapat ditingkatkan. Johnson & Johnson dalam Ibrohim, 2000 menyatakan bahwa siswa yang belajar melalui pembelajaran kooperatif akan memiliki pengalaman sains yang lebih baik. Menurut Slavin dalam Ibrohim, 2000 belajar kooperatif yang menggunakan penghargaan kelompok dan akuntabilitas individu akan meningkatkan pencapaian belajar siswa.

Penelitian ini menggunakan model STAD dengan media kartu domino. Penggunaan kartu domino ini merupakan salah satu upaya untuk membangun suasana pembelajaran yang menyenangkan karena pada kartu-kartu itu siswa seolah diajak main tebak-tebakan. Dapat dikatakan bahwa metode seperti ini adalah belajar sambil bermain. Permainan secara umum merupakan suatu bentuk kegiatan di mana peserta yang terlibat di dalamnya bertindak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan tertentu (Latuheru, 1988 dalam Fatmawati, 2009) mengemukakan bahwa permainan merupakan suatu metode pengajaran yang menitikberatkan pada “learning by doing”.

Tujuan permainan sebagai teknik bimbingan belajar secara spesifik pada prinsipnya ialah untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap masalah belajar dan pemahaman terhadap orang lain yang berkaitan dengan masalah belajar, juga berorientasi kepada peningkatan sosial , perilaku sosial, dan proses sosialisasi siswa dengan temannya dalam mencegah dan mengatasi masalah belajar, serta mengembangkan aktifitas belajar secara positif. Tujuan permainan sebagai teknik bimbingan  belajar tersebut diharapkan dapat memcahkan suatu permasalahan dengan suasana yang menyenangkan. 

Adam (1975) dalam Fatmawati (2009) mengemukan bahwa salah satu ciri terpenting dari permainan ialah menyenangkan. Membantu agar para siswa memperoleh kesenangan di kelas merupakan suatu pendekatan menuju ke arah  proses belajar yang aktif dan akan memberikan semua bentuk hasil belajar . Salah satu hasil belajar dengan teknik permainan ialah siswa akan lebih termotivasi untuk belajar, juga suasana di kelas tidak meresahkan, menakutkan, dan teknik permainan ini dapat merangsang minat dan gairah siwa dalam proses pembelajaran. Motivasi merupakan salah satu sarana yang paling berguna pada pembelajaran dengan menggunakan teknik permainan. Rasa senang terlibat dalam proses pembelajaran dengan permainan dapat mengakibatkan para siswa akan mampu memahami  apa yang akan dipelajari secara sempurna . Pembelajaran dengan teknik permainan akan melahirkan suatu persaingan yang positif antar siswa. Persaingan yang positif di dalam kelas kondusif membantu siswa-siswa untuk belajar menguasai konsep-konsep yang harus dipahami, mempraktekan ketrampilan interpersonal dan melakukan dengan tepat, sehingga diharapkan siswa dapat menikmati emosinya

Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eskternal. Faktor internal terdiri dari faktor psikologis (intelegensi, motivasi belajar, sikap, minat, perasaan, kondisi akibat keadaan sosial, keadaan kultural dan ekonomi) serta faktor  fisiologis yang meliputi kesehatan jasmani. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari proses belajar di sekolah (meliputi kurikulum pembelajaran, disiplin sekolah fasilitas belajar dan pengelompkoan siswa) faktor sosial (meliputi sistem sekolah, status sosial siswa, interaksi guru dengan siswa) serta faktor situasional (meliputi politik, tempat dan waktu, musim dan iklim).

Hasil belajar sendiri dapat ditandai dengan perubahan perilaku belajar, pola pikir dan mental siswa. Pada penelitian ini perilaku yang dimaksud adalah aktifitas kooperaitf siswa. Hasil belajar yang diukur oleh peneliti adalah dari aspek kognitif siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pembelajaran kooperatif   dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bila dilihat lagi hasil belajar siswa pada data awal dan setelah perlakuan menggunakan kartu domino mengalami kenaikan sebanyak 8,05 %.

Hasil penelitian ini  dapat menguatkan beberapa penelitian  serupa yang dilakukan  oleh beberapa peneliti sebelumnya diantaranya adalah Prasetya (2006) di  SMAN 1 Gondang Wetan Kabupaten Pasuruan dan Lestari (2008)  di  MTs Nurul Ulum Malang sebelumnya mengenai pembelajaran kooperatif  model STAD (Student Team Achievement and Devisions). Hasilnya adalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan.

 

Simpulan

 

Dari hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD menggunakan media kartu domino  dapat meningkatkan proses  pembelajaran Biologi siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Wonorejo kabupaten Pasuruan  yaitu pada kegiatan diskusi kelompok dari data awal  dan setelah perlakuan menggunakan kartu domino meningkat sebesar 6,72 %, sedangkan pada kegiatan presentasi kelas mengalami peingkatan 7,44% dari data awal dan setelah perlakuan menggunakan kartu domino.

2. Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD menggunakan media kartu domino  dapat meinngkatkan hasil belajar biologi siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Wonorejo kabupaten Pasuruan meningkat sebesar 8,05 % dari data awal dan setelah perlakuan menggunakan kartu domino.         

 

 

Daftar Pustaka

 

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. BSNP-Standar Isi. Jakarta; Badan Standar Nasional Pendidikan

Chotimah dan Dwitasari. 2007. Model-model Pembelajaran untuk PTK. Yayasan Pendidikan Universitas Negeri Malang. SMA Lab. UM.

Dimyati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Fatmawati, Evi. 2009. Pemahaman Konsep Genetika Dengan Permainan Kartu  Alfabet Genetika Dalam Menciptakan Suasana Pembelajaran Menyenangkan Di Kelas  XII-IPA 2 Semester I Tahun Pembelajaran 2008/2009 SMA LABORATORIUM UM

Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya. University Press.

Lie, A. 2000. Cooperative Learning. Jakarta. Grasindo

Nurhadi, dkk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.

Soeharto, dkk. 2003. Teknologi Pembelajaran. Surabaya: Penerbit Surabaya Intellectual Club.

Susanto, Pudyo. 1992. Strategi Pembelajaran Biologi di Sekolah Menengah. Malang: FPMIPA Universitas Negeri Malang.

Slavin, R.E. 2008. Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktek. Bandung: Nusa Media.

Syamsuri, Istamar,dkk.2007.IPA Biologi SMP Kelas VIII Jakarta: Erlangga.

Team Peneliti Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Class Room Action Research). Jakarta. Depdikbud.