Selasa, 05 April 2022

RAMADHAN : BULAN PEMBENTUKAN KARAKTER

 


RAMADHAN : BULAN PEMBENTUKAN KARAKTER

Izatul Laela, S.Si

Pendidik di SMPN 2 Wonorejo

 

Sebuah penelitian di Harvard University Amerika Serikat, menyatakan bahwa ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill (Ali Ibrahim Akbar, 2000).

Masih menurut Ali Ibrahim Akbar (2009), praktik pendidikan di Indonesia cenderung lebih berorentasi pada pendidikan berbasis hard skill (keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan intelligence quotient (IQ), namun kurang mengembangkan kemampuan soft skill yang tertuang dalam emotional intelligence (EQ), dan spiritual intelligence (SQ). Pembelajaran diberbagai sekolah bahkan perguruan tinggi lebih menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. Banyak guru yang memiliki persepsi bahwa peserta didik yang memiliki kompetensi yang baik adalah memiliki nilai hasil ulangan/ujian yang tinggi.

Negara kita memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang handal secara kualitas maupun kuantitas. Maka pemerintah melalui UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sejalan dengan tujuan Pendidikan nasional yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, maka sesungguhnya bulan Ramadhan adalah momentum terbaik untuk mendidik (mentarbiyah) manusia menjadi lebih baik. Allah sendiri yang menjanjikan bahwa orang-orang mukmin yang berpuasa akan menjadi orang yang bertaqwa (QS Al Baqarah : 183).

Saat ini pemerintah sedang gencar mensosialisasikan pendidikan karakter. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bulan Ramadhan sangat tepat sekali dijadikan momentum untuk proses internalisasi nilai-nilai karakter positif dalam diri siswa (peserta didik).

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.  Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development). Bulan Ramadhan sarat muatan spiritual karena hanya orang-orang beriman saja yang menjawab seruan Allah SWT untuk melaksanakan ibadah puasa. Dengan berpuasa orang akan mampu mengendalikan dan mengontrol emosi serta nafsu terhadap kecenderungan duniawi. Betapa banyak orang yang mengelabui pandangan manusia dengan berpura-pura seperti orang berpuasa. Puasa melatih kejujuran karena hanya diri kita dan Allah saja yang Mengetahui.  Ikut merasakan lapar seperti apa yang dirasakan orang-orang miskin akan memunculkan rasa tanggung jawab untuk memikirkan nasib mereka.

Konfigurasi karakter berikutnya adalah Olah Pikir (intellectual development).  Orang yang cerdas adalah orang yang banyak melakukan dzikrul maut (mengingat kematian). Dengan banyak mengingat kematian maka orang akan banyak mempersiapkan bekal untuk menghadapi hidup setelah kematian. Allah SWT melipat gandakan pahala bagi orang yang melakukan amal ibadah di bulan Ramadhan (membaca Al Qur’an, berinfaq, shadaqah, dll). Hasil riset di Universitas Al Azhar, Kairo menyatakan bahwa membaca Al Qur’an dapat meningkatkan kinerja otak sampai 80%, karena ada 3 aktifitas otak yaitu melihat, membaca, dan mendengar. Apalagi kalau kemudian dilanjutkan dengan mentadabburi (mempelajari) isi Al Qur’an. Subhanallah, disinilah terjadi intellectual development yang sesungguhnya.  

Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development) merupakan konfigurasi karakter ketiga. Pola hidup yang sehat sudah dicontohkan oleh teladan terbaik sepanjang jaman yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Menjadi seorang muslim tentu akan terjaga kebersihan jasmani dan rohani. Paling tidak lima kali dalam sehari semalam seorang muslim membersihkan diri dari hadats besar maupun kecil ketika akan shalat fardhu (shalat wajib). Belum lagi bila melaksanakan ibadah shalat sunnah seperti shalat dluha, shalat tahajjud atau shalat sunnah lainnya. Salah satu hikmah puasa ditinjau dari kesehatan adalah membuat pelakunya sehat sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Berpuasalah maka kamu akan sehat” (HR Tirmidzi). Sudah banyak penelitian tentang manfaat puasa ini, salah satunya adalah yang dilakukan oleh Prof. Chang, Singapura tahun 2011 menyatakan bahwa detoxifikasi paling ampuh adalah dengan memberi kesempatan organ-organ pencernaan untuk istirahat (=puasa) tiap bulan selama 7 – 11 hari. Hal ini tentu sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW yang melaksanakan puasa senin-kamis ditambah puasa pertengahan bulan Hijriyah (tanggal 13, 14 dan 15 bulan Qamariyah).

Yang keempat adalah  Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Peduli dan kreatif adalah karakter yang diharapkan muncul dari olah rasa dan karsa ini. Puasa melatih kepedulian terhadap sesama. Orang yang berpuasa berarti sengaja melaparkan diri dengan dibatasi oleh dua waktu yaitu imsak (sebelum fajar) sampai adzan maghrib. Sementara fakir dan miskin menderita kelaparan dalam waktu yang tidak tahu kapan batasnya. Inilah yang kemudian menimbulkan kepedulian itu sehingga orang yang berpuasa akan gemar memberi makanan berbuka, gemar berinfaq, gemar bershadaqah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan hamba-hambaNya di bulan yang penuh barakah ini. Seperti sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa memberi makanan berbuka untuk orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang diberi (HR Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Bila kita melihat realita dalam dunia pendidikan, maka peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik.

Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif  tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dan sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan untuk mentarbiyah (mendidik) karakter terpadu. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar, terutama pembentukan karakter peserta didik sesuai tujuan pendidikan dapat dicapai. Dengan adanya Pondok Ramadhan atau Sanlat (Pesantren Kilat) yang diadakan di sekolah merupakan salah satu upaya untuk mewujudkannya.

Menurut Mochtar Buchori (2007), pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Harapan kita semua adalah bahwa Ramadhan bukan hanya menginspirasi pendidikan karakter sesaat. Tapi didikan atau gemblengan bulan Ramadhan akan menjiwai pendidikan karakter peserta didik kita, anak-anak kita di luar bulan Ramadhan. Caranya adalah dengan mengintegrasikan pendidikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

 

Referensi :

Ibrahim, Ali, 2009. Pendidikan Karakter, Penerbit Remaja Rosda Karya


https://ejournal.unisnu.ac.id 

 


                                                                                   

 

 

 

 

 

 

 






 

 

  

 

Rabu, 02 Maret 2022

MINDFULNESS Sepenggal Episode Kehidupan Manusia Pilihan Tuhan

 

MINDFULNESS

Sepenggal Episode Kehidupan Manusia Pilihan Tuhan

Oleh : Izatul Laela, S.Si

SMPN 2 Wonorejo



 

Dulu saya mengira bahwa mindfulness adalah milik agama atau komunitas tertentu. Karena dalam pikiran saya aktifitasnya menyerupai meditasi. Seiring berjalannya waktu, pandangan saya mulai berubah. Apalagi dalam event-event tertentu yang saya ikuti terkadang diawali dengan kegiatan mindfulness ini. Memulainya dengan mencari posisi duduk yang nyaman, mengatur napas, lalu fokus pada detak jantung atau merasakan sensasi udara yang mengalir saat menarik dan mengembuskan napas apalagi kalau diiringi alunan music atau lantunan ayat-ayat suci AlQur’an tentu akan memberikan sensasi tersendiri.

Jika menilik shirah Nabawiyah, Rasulullah SAW pernah melakukan sejenis mindfulness ini, yaitu berkhalwat di Gua Hira sampai turunnya wahyu untuk yang pertama kalinya. Meski tidak bisa dikatakan sama, setidaknya, khalwat yang pernah dilakukan Rasulullah SAW mengutip pendapat mantan mufti agung Mesir, Syekh Ali Jumah, bahwa prinsip utama dalam melakukan khalwat ada empat yaitu qillatul kalam, qillatut tha'am, qillatul anam, dan qillatul manam  memiliki banyak kesamaan manfaat dengan mindfulness.

Qillatul Kalam (sedikit bicara) hal ini dilakukan agar seseorang yang sedang berkhalwat lebih fokus dalam berdzikir, tadabur, dan tafakkur. Saat mindfulness kita juga sedikit bicara bahkan tidak bicara, kita fokus dan menghargai apa yang kita miliki saat ini.Tanpa disadari, kita mungkin pernah bereaksi terhadap pikiran dan perasaan negatif. Berlatih mindfulness dapat membantu kita menjadi lebih sadar akan pikiran dan perasaan, serta mengelolanya dengan cara yang lebih positif. Mengontrol pikiran dan perasaan dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan.

 

Qillatut tha'am (sedikit makan) seperti halnya puasa, mengurangi makanan terbukti dapat membuat seseorang lebih mudah dalam mengendalikan nafsu, melatih kesabaran, dan menambah rasa syukur.  Menerapkan mindfulness pada saat makan akan mengubah pengalaman makan menjadi jauh lebih menyenangkan. Ketika kita mengarahkan fokus seluruhnya kepada tubuh dan alasan mengapa kita perlu makan, kita dapat melenyapkan semua perasaan lapar yang tengah dialami. Penerapan mindfulness saat makan bisa dilakukan dengan bernapas sebelum makan, mendengar kebutuhan tubuh kita, makan sesuai yang dibutuhkan, tidak terburu-buru saat makan, dan mengonsumsi makanan yang disukai.

 

Qillatul anam (sedikit interaksi dengan manusia) walaupun Jabal Nur adalah sebuah gunung yang besar, namun bentuknya yang tinggi dan curam membuatnya sulit didaki oleh manusia. Begitupun Gua Hira yang ada disana, yang memiliki ukuran  kecil sehingga tidak bisa dimasuki banyak orang, Hal ini sangat membantu Rasulullah SAW dalam menjaga konsentrasi. Melakukan mindfulness menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam suasana hati dan memori kerja, yang memungkinkan untuk pengambilan keputusan dan penyimpanan informasi. Para peneliti juga mengamati bahwa berlatih mindfulness memungkinkan kita untuk tetap tenang dan tidak emosional dalam menghadapi masalah apa pun.  Mindfulness secara tak langsung juga dapat memperlambat perkembangan gangguan kognitif yang berkaitan dengan usia, seperti penyakit Alzheimer dan demensia.Dalam sebuah penelitian, pasien Alzheimer yang melakukan mindfulness melaporkan adanya peningkatan kesejahteraan yang lebih baik dan membantu mempercepat pemulihan.

 

Qillatul manam (sedikit tidur) sekalipun kondisi sepi dan tidak banyak makan, bukan berarti berkhalwat adalah waktu yang tepat untuk tidur. Justru di saat ini ketika seseorang sudah sibuk bertafakkur, dia akan dibuat lupa waktu sehingga tidak merasakan waktu berjalan cepat sedangkan dirinya tidak sempat beristirahat. Dengan berlatih mindfulness, dapat membantu meningkatkan rasa kasih sayang dan kesabaran sehingga kita akan memaknai hidup dengan lebih bahagia dan bersyukur. Waktu akan lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Bermunajat kepadaNya saat sepertiga malam terakhir, banyak mentadabburi kekuasaan Sang Pencipta sehingga akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh rahmat bagi sesame dana lam semesta.

 

 

            Sebagai pendidik yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik / uswatun hasanah sudah selayaknya saya juga akan meniru apa yang pernah dilakukan oleh beliau. Untuk diri saya sendiri, saya akan selalu berusaha untuk melatih mindfulness setiap akan, sedang dan setelah melakukan kegiatan pembelajaran. Dengan harapan dapat memperbaiki yang masih kurang dan mempertahankan atau bahkan meningkatkan hal yang sudah baik. Sedangkan untuk siswa, saya akan mengajak mereka untuk melakukan mindfulness agar mereka bisa lebih fokus, lebih tenang, lebih terarah, melatih mereka mencari solusi terbaik dari permasalahan yang mereka hadapi.

 

Mindfulness membutuhkan banyak  latihan dan usaha. Jangan lupa juga untuk selalu bersabar karena ini adalah proses yang membutuhkan waktu. Tanpa mencobanya, kita tidak akan pernah bisa.

 

Sumber Rujukan:

Alodokter diakses 2 Maret 2022 pk 15.04

 

https://www.sehatq.com/artikel/manfaat-menerapkan-mindfulness-dalam-kehidupan-sehari-hari

diakses pada 2 Maret 2022 pk 15.14

 

https://www.republika.co.id/berita/qs9a7w320/yang-dilakukan-rasulullah-selama-khalwat-di-gua-hira

diakses pada 2 Maret 2022 pk 20.05


 

Rabu, 23 Februari 2022

 

Modul 2.1.a.9 Koneksi Antar Materi_Modul 2.1

Disusun oleh:


Izatul Laela, S.Si

CGP Angkatan Ke-4

Kab. Pasuruan

 

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodir perbedaan murid, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu.


Pembelajaran berdiferensiasi memberi keleluasaan pada murid untuk meningkatkan potensi diri sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar mereka.

  • Kesiapan belajar (readiness) murid terkait tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.
  • Minat merupakan salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk “menghubungkan” murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid dalam hal ini salah satu contohnya setiap murid memiliki gaya belajar yang berbeda.
  • Pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien dengan demikian guru perlu memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.

Pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan konten/materi. Metode ini dapat diterapkan pada hampir semua mata pelajaran.

Pembelajaran dilakukan dengan beragam cara untuk memahami informasi baru bagi semua murid dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran evaluasi sehingga semua murid di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. Selain itu juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

Sebagai contoh, saya pernah memberikan materi pelajaran IPA dengan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi pada materi Bioteknologi.

Saya menugaskan siswa untuk membuat produk bioteknologi konvensional yang sesuai dengan potensi local dan mudah dalam memperoleh bahan serta siswa merasa nyaman atau enjoy dalam melakukannya. Tugas ini secara tidak langsung dapat mengarahkan siswa yang berpotensi dan belajar sesuai dengan minatnya. Pembelajaran berdiferensiasi berfokus pada tiga hal utama, yaitu:

Diferensiasi konten/materi

Siswa punya kebebasan untuk menentukan bahan untuk diolah menjadi tape. Guru akan memberikan lembar kerja (LK) berisi tabel panduan dan contoh langkah-langkah yang harus dilakukan siswa ketika ingin membuat tape atau yoghurt berdasarkan bahan-bahan yang mereka pilih.

Diferensiasi proses

Guru dapat memberikan siswa kebebasan untuk mengolah bahan yang telah dipilihnya. Siswa dapat membuat tape (singkong atau ketan atau nasi) atau yoghurt. Setelah itu siswa harus menulis bagaimana ia menyusun rencana, jadwal pengolahan, dan mengawasi produk yang akan dihasilkan di dalam LK.

Cara diferensiasi proses di antaranya:

  • Kegiatan berjenjang, di mana semua murid bekerja membangun pemahaman yang sama tetapi dilakukan dengan dukungan, tantangan dan kompleksitas yang berbeda.
  • Menyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan melalui sudut-sudut minat, dengan demikian akan mendorong murid mengeksplorasi berbagai materi yang dipelajari.
  • Membuat agenda individual untuk murid, misalnya guru membuat daftar tugas berisi pekerjaan umum untuk semua kelas serta daftar pekerjaan yang terkait dengan kebutuhan individual murid. Jika murid telah selesai mengerjakan pekerjaan umum maka mereka dapat selesai melihat agenda individual dan pekerjaan yang dibuat khusus untuk mereka
  • Memfasilitasi lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas. Dalam hal ini untuk memberikan dukungan bagi murid yang mengalami kesulitan atau sebaliknya mendorong murid yang cepat untuk mengejar topik secara lebih mendalam.
  • Mengembangkan kegiatan yang bervariasi yang mengakomodasi gaya belajar visual, auditori dan kinestetik.
  • Menggunakan pengelompokan yang fleksibel yang sesuai dengan kesiapan, kemampuan dan minat murid.

Diferensiasi produk

Diferensiasi produk akan tampak dari produk yang dihasilkan siswa. Produk ini beragam jenisnya karena bahan dan proses yang digunakan juga beragam. Guru dapat meminta orangtua atau saudara untuk menilai produk yang dibuat siswa. Penilaian dapat meliputi rasa, inovasi, dan bentuk.

Penjelasan produk juga tidak harus selalu dalam bentuk laporan tertulis. Siswa dapat menjelaskan produk dalam bentuk visual seperti video presentasi/foto dokumentasi ataupun dalam bentuk audio seperti voice note tergantung minat siswa.

Meskipun konten, proses, dan produk yang dihasilkan beragam, namun guru punya acuan penilaian yang seragam. Acuan penilaian dalam pembelajaran ini meliputi penilaian sikap yang dilihat dari sikap tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama antar siswa.

Penilaian pengetahuan tergambar dari cara siswa menjelaskan proses menghasilkan suatu produk sedangkan penilaian keterampilan tergambar dari proses dalam menghasilkan produk makanan yang bahannya berasal dari lingkungan sekitar siswa.

Karakteristik siswa

Untuk mengetahui karakteristik masing-masing siswa adalah dengan mengamati gaya belajar mereka. Gaya belajar terdiri dari auditori, visual, kinestetik.

Cara lainnya bisa dengan melihat dan mengamati tugas-tugas yang sudah dikerjakan siswa. Guru dapat berdiskusi dengan guru mata pelajaran lain tentang kemampuan siswa tersebut ketika menerima materi pelajaran.

Selain itu, guru juga dapat membuat angket minat belajar siswa, pertanyaan pemantik untuk mengetahui minat dan karakteristik siswa.

Tantangan pembelajaran berdiferensisasi

Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi tidak semudah membalik tangan. Guru harus dapat menyiapkan beberapa materi dan instrumen penilaian sekaligus. Selama ini guru dan siswa sudah terbiasa pada zona nyaman. Jadi harus siap dengan segala hal yang bisa saja terjadi karena melakukan hal yang terkesan tidak biasa.Pembelajaran berdiferensiasi juga dapat menguntungkan anak untuk memaksimalkan potensi mereka. Karena anak bisa melaksanakan pembelajaran sesuai dengan minat, kesiapan belajar serta gaya belajar mereka.

Lingkungan yang Mendukung Pembelajaran yang Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun dengan “learning community” atau komunitas belajar yaitu komunitas yang semua anggotanya adalah pembelajar. Guru akan mengembangkan murid-muridnya untuk mengembangkan sikap-sikap dan praktik-praktik yang selalu mendukung lingkungan belajar. Komunitas belajar yang efektif mendukung pembelajaran berdiferensiasi adalah:

  1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik. Iklim ini bukan hanya dilihat dari sikap dan tindakan guru yang ramah dan menyabut murid tetapi juga sikap yang ditunjukkan antar murid. Ruang kelas akan dipenuhi dengan hasil belajar murid atau berbagai hal di mama murid berperan di dalamnya.
  2. Setiap orang dalam kelas akan saling menghargai. Baik guru, murid, orang tua maupun kepala sekolah akan berbagi kebutuhan, perasaan diterima, dihormati, aman dan sebagainya. Guru membantu murid memecahkan secara konsruktif dan tidak akan pernah membuat perasaan siapapun menjadi kecil.
  3. Murid akan merasa aman. Aman bukan sebatas secara fisik tetapi juga secara psikis. Murid-murid yang berada dalam kelas sangat tahu bahwa mereka boleh bertanya , boleh menyampaikan pendapat, mencoba hal-hal baru serta  berani mencoba berbagai ide-ide kreatif.
  4. Ada harapan bagi pertumbuhan. Tujuan pembelajaran berdiferensiasi untuk membantu setiap murid tumbuh semaksimal mungkin sesuai kemampuannya.
  5. Ada keadilan dalam bentuk nyata. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, adil berarti berusaha memastikan semua murid mendapatkan apa yang dia butuhkan untuk tumbuh dan sukses.
  6. Guru dan murid berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama. Setiap orang harus mengambil tanggung jawab baik untuk kesejahteraan diri mereka sendiri maupun kesejahteraan orang lain.  

Korelasi Antara Pembelajaran Berdiferensiasi Dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara

Bahwa maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya , maka peran guru penggerak sebagai teladan pendidikan karakter bagi peserta didik , menciptakan well-being ekosistem pendidikan, dan menata lingkungan belajar yang penuh dengan stimulus yang nyaman, aman dan menyenangkan. 

Maka untuk mewujudkan itu Visi guru penggerak yang berpihak pada murid mendukung pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada anak, dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng sesama dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama dengan konsep Inkuiri Apresiatif BAGJA. 

Pembelajaran Berdiferensiasi hadir sebagai bentuk pengajaran efektif dengan memberikan beragam cara untuk memahami informasi baru untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beraneka ragam. berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan murid.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi diharapkan Profil Pelajar Pancasila akan terwujud. Siswa memiliki karakter yang mulia, baik hubungannya dengan Tuhan atau hubungan dengan sesama juga terhadap alam (Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlaq mulia). Selain itu anak juga menghargai budaya , mempertahankan budaya luhur tapi terbuka terhadap dalam berinteraksi dengan budaya lain (Berkebinekaan Global) mau bekerjasama, bergotong royong untuk mencapai tujuan bersama (Gotong royong), Mandiri, Bernalar Kritis dan Kreatif.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi diharapkan terciptanya pelajar Indonesia yang well-being yang optimal, kesehatan fisik dan mental, lingkungan yang aman, nyaman dan menyenangkan akan menghasilkan peserta didik yang tangguh dalam menghadapai fenomena kehidupan dan mampu terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggungjawab. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 08 Januari 2022

Madin : Sebuah Kearifan Lokal-Potret Implementasi Budaya Positif

 

Madin : Sebuah Kearifan Lokal-Potret Implementasi Budaya Positif

Oleh: Izatul Laela

SMPN 2 Wonorejo

 

Madin atau Madrasah diniyah adalah lembaga pendidikan yang keseluruhan mata pelajarannya adalah mata pelajaran agama Islam yang memungkinkan peserta didiknya menguasai materi ilmu agama secara baik dikarenakan padat dan lengkapnya materi ilmu agama yang disajikan dalam proses pembelajaran di madrasah diniyah. Wikipedia.

Seiring dengan perubahan aturan, akhir akhir ini kementerian agama atau Kemenag lebih memilih menamakan Diniyah takmiliyah. berita yang beredar adalah dengan menyandang nama madrasah dikhawatirkan nanti nya akan menuntut hak kepada Pemerintah seperti Madrasah Ibitidaiyyah atau Tsanawiyah ataupun Madrasah Aliyah. Dengan menghilangkan kata Madrasah maka meminimalisir dari tuntutan persamaan hak.

 

Jenjang Madin

Jenjang Madin dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu :

1.      Awwaliyah,

2.      Wustha

3.      Ulya.

Madrasah diniyah Awwaliyah (MDTA) diperuntukkan bagi anak-anak berumur sekolah dasar dengan asumsi umur 9-12 tahun. Sedangkan untuk Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha (MDTW) merupakan wadah bagi para siswa setingkat SLTP atau MTs dengan kisaran umur 12-15 tahun. Dan untuk madrasah diniyah takmiliyah Ulya atau MDTU bagi mereka yang duduk di tingkat SMA atau MA.

 

Sedangkan secara ukuran lama pendidikan diperinci seperti dibawah ini :

1.      Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah menempuh pendidikan selama  4 Tahun

2.      Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha menempuh pendidikan selama 2 tahun

3.      Madrasah Diniyah Takmiliyah Ulya menempuh pendidikan selama 2 tahun

 

WAKMUQIDIN 

Wakmuqidin (wayahe kumpul mbangun TPQ dan Madin) merupakan salah satu program kerja dari pemerintah kabupaten Pasuruan guna membangun madrasah sebagai salah satu tempat pendidikan yang bisa membangun masyarakat kabupaten Pasuruan yang berakhlakul karimah.

Program ini diharapkan bisa menjadi sinergi antara pembelajaran yang mengarah pada kecakapan akademik dan kognitif dengan pembelajaran yang membentuk kecakapan efektif dan spiritual anak.

Dengan digencarkannya kegiatan sosialisasi Wakmuqidin ini Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf berharap para orangtua bisa mengenalkan Al Quran semenjak dini kepada anak - anaknya yang muaranya akan membentuk anak yang berakhlakul karimah,

Kearifan Lokal

 

Secara etimologis, kearifan lokal terdiri dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Pada KBBI, lokal berarti setempat, sedangkan kearifan sama dengan kebijaksanaan. Sehingga jika dilihat secara etimologis, kearifan lokal (local wisdom) dapat diartikan sebagai gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Istilah kearifan lokal pertama kali dikenalkan oleh HG. Quaritch Wales (dalam Budiwiyanto 2006) yang menyebut kearifan lokal sebagai “local genius” yang berarti sejumlah ciri kebudayaan yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat sebagai suatu akibat pengalamannya di masa lalu. Yunus (2012) mengartikan kearifan lokal sebagai budaya yang dimiliki oleh masyarakat tertentu dan ditempattempat tertentu yang dianggap mampu bertahan dalam menghadapi arus globalisasi, karena kearifan lokal tersebut mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter bangsa. 

 

Pengertian kearifan lokal yang lain dikemukakan oleh Suhartini (2009) yang menyatakan bahwa kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat di suatu tempat atau daerah yang merujuk pada lokalitas dan komunitas tertentu. Sedangkan Fajarini (2014) mengartikan kearifan lokal sebagai pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. 

Negara (2011) menyatakan bahwa kearifan lokal bukan hanya menyangkut pengetahuan atau pemahaman masyarakat adat/lokal tentang manusia dan bagaimana relasi yang baik diantara manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman, dan adat kebiasaan tentang manusia, alam, dan bagaimana relasi diantara semua, dimana seluruh pengetahuan itu dihayati, dipraktikkan, diajarkan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi. 

Bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada di masyarakat menurut Aulia dan Dharmawan (2010) dapat berupa nilai, norma, kepercayaan, dan aturanaturan khusus. Bentuk yang bermacam-macam ini mengakibatkan fungsi kearifan lokal menjadi bermacam-macam pula. Fungsi kearifan lokal tersebut antara lain untuk: (1) konservasi dan pelestarian sumber daya alam; (2) mengembangkan sumberdaya manusia; (3) pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan; serta (4) petunjuk tentang petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan. Selain itu, ditambahkan oleh Sartini (2004) yang mengemukakan fungsi dan makna kearifan lokal diantaranya: (1) berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam; (2) berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia misalnya berkaitan dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate; (3) berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya pada upacara Saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura Panji; (4) berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan; (5) bermakna sosial, misalnya upacara integrasi komunal/kerabat; (6) bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan penyucian roh leluhur; serta (7) bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron client. 

Beberapa definisi kearifan lokal di atas pada dasarnya memiliki konsep yang sama, dimana kearifan lokal diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang berupa nilai, norma, dan aturan-aturan khusus yang berkembang, ditaati, dan dilaksanakan oleh masyarakat di suatu tempat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan-pengetahuan tersebut bersifat lokal, dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain, meskipun memiliki makna yang sama. 

 

Pembelajaran di Madin

Pembelajaran di Madin yang paling utama adalah kajian al-qur’an dan al-hadist, dengan dukungan bahasa Arab, serta kajian kajian yang lain, di ataranya, ilmu yang berkaitan dengan al-qur’an (tafsir, dan qira’ah al-sabah), ilmu yang berkaitan dengan hadits (al-nasikh al-mansukh, dan musthalah hadits), kajian teologi, filsafat, fiqh, tasawuf, faraid. Ilmui-lmu tersebut tergolong dalam ulum naqliyah yang termaktub dalam Mukaddimanya Ibn Khaldun. Sedangkan yang tergolong ulum aqkliyyah, yaitu; mantiq, aritmatika, geometri, astronomi, musik, tarbiyyah, kedokteran, falaq, dan lain lain. Tradisi keilmuan di madrasah dapat dilihat dari tiga aspek. Pertama, aspek transformasi madrasah. Dilihat dari sisi keilmuan, ilmu yang diajarkan di madrasah masih merupakan kelanjutan dari yang diselenggarakan di masjid. Kedua, aspek aliran agama. Madrasah merupakan lembaga sunni atau aliran fiqh dan hadits dan madrasah menolak filsafat dan mantiq Yunani karena mantiq merupakan pintu menuju filsafat dan kesesatan. Hal ini mengakibatkan madrasah kurang memperhatikan ilmu-ilmu yang berbasis logika dan filsafat kuat seperti ilmu kimia, fisika, kedokteran dll. Apalagi metode yang dominan di madrasah adalah iqra’ (ceramah) dan imla’ (dikte) sehingga lebih merangsang budaya menghafal dari pada memahmi. Ketiga, Aspek politik pemerintah.

Budaya positif

 

Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di madrasah yang berpihak pada santri agar santri dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab

Dalam penerapan budaya positif kita harus menumbuhkan lingkungan yang positif. Memahami kebutuhan-kebutuhan dasar yang dibutuhkan seorang santri pada saat mereka berperilaku tidak pantas dan tidak sesuai apa yang kita harapkan. Dengan tidak hanya melakukan hukuman yang mungkin saja memberikan efek dan dampak yang tidak baik pada perkembangan emosi santri.

            Selama ini hukuman merupakan bentuk pembelajaran disiplin bagi santri bagi seorang ustadz, padahal hukuman menmpunyai arti berbeda. Hukuman adalah sebuah cara untuk mengarahkan sebuah tingkah laku agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku Secara umum hukuman dalam hukum adalah sanksi fisik maupun psikis untuk kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan yang berpengaruh untuk karakter anak dan tidak bagus untuk psikologis anak.

          Disiplin positif bertujuan untuk bekerja sama dengan santri dan tidak menentang mereka. Penekanannya adalah membangun kekuatan santri daripada mengkritik kelemahan mereka dan menggunakan penguatan positif (positive reinforcement) untuk mempromosikan perilaku yang baik. Hal ini melibatkan memberikan santri pedoman yang jelas untuk perilaku apa yang dapat diterima dan kemudian mendukung mereka ketika mereka belajar untuk mematuhi pedoman ini. Pendekatan ini secara aktif mempromosikan partisipasi anak dan penyelesaian masalah dan di saat yang bersamaan juga mendorong orang dewasa, dalam hal ini yaitu pendidik, untuk menjadi panutan positif bagi anak-anak muda dalam perjalanan tumbuh kembang mereka.

           Upaya untuk membangun budaya positif di madrasah, ustadz harus bekerja sama dengan kepala madrasah serta orang tua. Melibatkan dan bekerjasama dengan orangtua dalam penerapan disiplin positif. Kepala madrasah harus memastikan para ustadz dan staf mendapatkan dukungan dalam menerapkan disiplin positif di madrasah serta Mendukung dan mengawasi keterlibatan orangtua dalam menerapkan disiplin positif. Dan orang tua menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman sehingga dapat menerapkan disiplin positif yang konsisten dan berpartisipasi dalam pertemuan madrasah dan memiliki hubungan baik dengan guru/madrasah untuk mendukung pendekatan disiplin positif

       Oleh karena itu ustadz harus sebagai manager dalam menerapkan budaya positif di madrasah sehingga tercipta budaya positif yang menjadikan seluruh santri mempunyai kebiasaan yang baik tanpa adanya tekanan dan ancaman yang diberikan, tetapi mereka menyadari akan nilai nilai positif yang diraih dengan melakukan hal hal yang baik tersebut dengan melakukan kesepakatan  yang telah disetujui bersama.

Simpulan

Madrasah Diniyah atau Madin merupakan sebuah upaya yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui program WAKMUQIDIN (Wayae Kumpul Mbangun TPQ dan Madin). Ini merupakan salah satu kearifan lokal yang digagas oleh Pemkab Pasuruan karena berisi kumpulan pengetahuan yang berupa nilai, norma, dan aturan-aturan khusus yang berkembang, ditaati, dan dilaksanakan oleh masyarakat di suatu tempat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam pelaksanaannya madin menerapkan budaya positif yang merupakan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di madrasah yang berpihak pada santri agar santri dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.

Sumber Bacaan:

 

Aulia, T.O.S; A.H., Dharmawan. 2010. Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Air di Kampung Kuta. Sodality: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia. 4 (3): 345-355. 

 

Budiwiyanto. 2005. Tinjauan Tentang Perkembangan Pengaruh Local Genius dalam Seni Bangunan Sakral (Keagamaan) di Indonesia. Ornamen. 2(1):

25-35.

 

Departemen Agama, Sejarah Perkembangan Madarsah, (Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1998), 30

 

Fajarini, U. 2014. Peranan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter. Sosio Didaktika 1(2): 123130.

 

Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999),

Negara, P.D. 2011. Rekonstruksi Kebijakan Pengelolaan Kawasan Konservasi Berbasis Kearifan Lokal sebagai Kontribusi Menuju Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Indonesia. Jurnal

Konstitusi. IV(2): 91-138.

 

Sartini. 2004. Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat. 37(2): 111-120.

 

Yunus, R. 2012. Nilai-Nilai Kearifan Lokal (Local Genius) sebagai Penguat Karakter Bangsa: Studi Empiris tentang Huyula. Yogyakarta: CV. Budi Utama.