Jumat, 13 Januari 2023

SEKOLAH SEBAGAI EKOSISTEM



 SEKOLAH SEBAGAI EKOSISTEM

Izatul Laela, S.Si

Pendidik di SMPN 2 Wonorejo

 

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Atau dengan kata lain ekosistem merupakan tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.

Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang terdiri dari makhluk hidup) dan abiotik (unsur yang terdiri dari benda tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

· Murid, yaitu anak yang sedang berguru atau belajar di sekolah;

· Kepala Sekolah, yaitu guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin suatu sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar;

· Guru, yaitu orang yang berprofesi sebagai pengajar di  lembag/sekolah pada jenjang sekolah dasar dan menengah;

· Staf/Tenaga Kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan;

· Pengawas Sekolah, yaitu guru PNS yang diangkat dalam jabatan pengawas dalam satuan pendidikan;

· Orang Tu

· Masyarakat sekitar sekolah

Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah:

· Keuangan, yaitu semua sumber pendanaan yang dimiliki oleh sekolah yang dikelola untuk keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan;

· Sarana dan prasarana, yaitu alat yang digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung yang pengelolaannya ditujukan untuk tercapainya tujuan pendidikan.

 

Bagaimana agar terjadi interaksi yang harmonis antara faktor biotik dan abiotik dalam ekosistem sekolah?

 

Pembahasan tentang ekosistem sekolah tentu tak lepas dari pendekatan atau cara pandang. Selama ini kita lebih sering berfokus pada kelemahan atau kekurangan yang dimiliki oleh sekolah. Pendekatan semacam ini disebut sebagai pendekatan berbasis  kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking). Pendekatan ini   akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.  Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.  Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Sebenarnya cara pandang atau pendekatan akan lebih memberikan makna atau nuansa yang baik bila menggunakan pendekatan berbasis aset. Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Aset Based Community Development (ABCD) atau Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) dikembangkan oleh McKnight dan Jody Kretzmann dari ABCD Institute di Nortwestern University. PKBA muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional yang menekankan pada masalah dan kekurangan sebuah komunitas. PKBA menggunakan pendekatan berbasis asset dalam mengembangkan komunitasnya. Pendekatan ini digerakkan oleh seluruh pihak yang ada dalam sebuah komunitas. Jadi akan terlihat beberapa karakter saat sebuah sekolah menggunakan pendekatan ini. Contohnya:

1. Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif,

2. Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan atau memulai suatu tindakan.

3. Darpada menanyakan “ada masalah apa? Atau bagaimana memperbaikinya? Lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan? Atau “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?. Cara bertanya ini mendorong energi dan kreatifitas.

4. Seluruh warga berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi.

5. Setiap warga sekolah akan bertanggungjawab atas apa yang sudah dimulai.

6. Membangun dan membina hubungan dua arah antar warga sekolah, mulai dari guru, kepala sekolah, murid dan staf sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.

7. Sekolah harus dibangun dengan melihat kekuatan, potensi dan tantangan. Kita harus fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.

8. Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada. Masing-masing unsur akan menyumbangkan kemampuan dan aset yang dimiliki untuk sekolah yang lebih baik.

9. Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam salah setiap upaya membangun sekolah

10. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan  adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan serta pembaharuan kepemimoinan itu secara terus menerus.

 

Aset Dalam Komunitas

Ada 7 aset utama dalam sebuah komunitas yaitu:

1. Modal Manusia

Sumber daya manusia yang berkualitas adalah investasi dari yang paling berharga dari sebuah komunitas. Kita dapat menginventaris sumber daya manusia yang dimiliki dilihat dari pengetahuan, kecerdasan dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap warga komunitasnya.

2. Modal Sosial

Investasi yang berdampak pada bagaimana manusia, kelompok, dan organisasi dalam komunitas berdampingan, contohnya kepemimpinan, bekerjasama, saling percaya, dan punya rasa memiliki masa depan yang sama.

3. Modal Fisik

Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu:

Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan.

Infrastruktur atau sarana prasarana, mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain.

 4. Modal Lingkungan/alam

Bisa berupa potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup.  Modal lingkungan terdiri dari bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.

Tanah untuk berkebun, danau atau empang untuk berternak, semua hasil dari pohon seperti kayu, buah, bambu, atau material bangunan yang bisa digunakan kembali untuk menenun, dan sebagainya.

 5. Modal Finansial

Dukungan keuangan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan dan kegiatan sebuah komunitas.

Modal finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal.

Modal finansial juga termasuk pengetahuan tentang bagaimana menanam dan menjual sayur di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan membuat produk-produk yang bisa dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil, bagaimana memperbaiki cara penjualan menjadi lebih baik, dan juga bagaimana melakukan pembukuan.

 6. Modal Politik

Modal politik adalah ukuran keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki peluang atau kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara dalam masalah umum yang terjadi dalam komunitas.

Lembaga pemerintah atau perwakilannya yang memiliki hubungan dengan komunitas, seperti komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan, pelayanan listrik atau air.

 7. Modal Agama dan budaya

Upaya pemberian bantuan empati dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari kebijakan praktis (dorongan utama pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga kepercayaan, nilai, sejarah, makanan, warisan budaya, seni, dan lain-lain.

Kebudayaan yang unik di setiap daerah masing-masing merupakan serangkaian ide, gagasan, norma, perlakuan, serta benda yang merupakan hasil karya manusia yang hidup berkembang dalam sebuah ruang geografis.

Agama merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik perilaku lahiriah maupun simbolik.  Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.

Identifikasi dan pemetaan modal budaya agama merupakan langkah yang sangat penting untuk melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan dalam suatu komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh-tokoh penting yang berperan langsung atau tidak langsung di dalamnya.

Sangat penting kita mengetahui sejauh mana keberadaan ritual keagamaan dan kebudayaan yang ada di masyarakat serta pola relasi yang tercipta di antaranya dan selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk menunjang pengembangan perencanaan dan kegiatan bersama.

Keseimbangan sebuah ekosistem dalam hal ini sekolah akan tetap terjaga bila faktor biotik yang ada mampu saling bekerjasama, berkolaborasi, memiliki cara pandang positif atau berbasis aset. Sedangkan faktor abiotik akan menjadi pelengkap kebutuhan demi tercapainya penyelenggaraan pendidikan bila dikelola dengan baik, transparan dan akuntabel.

 

Referensi : Modul 3 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan ke 4

 

 

Kamis, 12 Januari 2023

PERAN KELUARGA DALAM MENUMBUHKEMBANGKAN KEPEMIMPINAN ANAK


 PERAN KELUARGA DALAM MENUMBUHKEMBANGKAN KEPEMIMPINAN ANAK

Izatul Laela, S.Si

Pendidik di SMPN 2 Wonorejo

 

Keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama mempunyai peranan penting dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak. Pendidikan keluarga mempunyai arti penting sebagai wadah antara individu dan kelompok yang menjadi tempat pertama dan utama untuk anak bersosialisasi yang bersifat informal dan kodrat. Pendidikan keluarga memiliki fungsi memberikan pengalaman pertama pada masa kanak-kanak, menjamin kehidupan emosional anak, menanamkan dasar pendidikan moral, dan memberikan dasar pendidikan sosial dan agama. Apabila dalam keluarga anak sudah memiliki dasar pendidikan yang kuat, maka kita dengan mudahnya dapat membentuk karakter anak tersebut menjadi anak yang berkarakter dan memiliki daya saing. Keluarga adalah tempat anak pertama kali mendapatkan pendidikannya, oleh karena itu pendidikan keluarga sangatlah penting bagi anak untuk membentuk karakter dalam menghadapi perkembangan zaman.

Dalam rangka mewujudkan lingkungan belajar yang dapat menumbuhkan kepemimpinan anak, guru dan sekolah tentunya tidak dapat bekerja sendiri. Mereka akan memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya berasal dari komunitas. Komunitas yang pertama dan utama bagi anak adalah keluarga mereka. anak mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga mereka di rumah dibandingkan di sekolah. Di SMPN 2 Wonorejo, anak berada di sekolah mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 12.10. Sekitar 5 jam saja dari 24 jam waktu yang mereka miliki. 19 jam sisa waktunya dihabiskan bersama keluarga di rumah atau dalam lingkungan bermain mereka. Ada juga diantara mereka yang belajar di madrasah diniyah (madin). Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita harus berusaha mencari cara bagaimana keluarga dapat ikut mengambil peran untuk ikut mendorong munculnya suara, pilihan, dan kepemimpinan anak.

Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik serta agama dan budaya. Komunitas keluarga merupakan aset sosial yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas program/kegiatan pembelajaran di sekolah, termasuk dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan anak, yaitu dengan bersama-sama ikut mempromosikan dan mendorong ‘suara, pilihan, kepemilikan’ dalam berbagai peran yang mereka mainkan dan interaksi mereka dengan anak. 

Suara anak (voice) 

Ketika kita berbicara tentang “suara” anak, maka kita sebenarnya bukan hanya berbicara tentang memberi anak kesempatan untuk mengomunikasikan ide dan pendapat. Lebih luas dari ini, mempertimbangkan suara anak adalah tentang bagaimana kita memberdayakan anak kita agar memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Suara anak yang otentik memberikan kesempatan bagi anak untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai.

Pilihan anak (Choice) 

Penelitian yang dilakukan oleh Aiken, Heinze, Meuter, & Chapman, (2016)  dan Thibodeaux et al. (2017) menyimpulkan bahwa jika kita menginginkan anak-anak kita mengambil peran tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, maka kita harus memberikan anak  kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan belajar.  Memberikan pilihan pada anak dapat memberdayakan anak, mendorong keterlibatan dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar (Aiken et al, 2016).   Selain itu, memberikan anak pilihan juga meningkatkan motivasi dan otonomi anak, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi anak (Bandura, 1997). 

Kepemilikan anak (ownership)

Voltz DL, Damiano-Lantz M. dalam artikel penelitiannya yang berjudul Developing Ownership in Learning. Teaching Exceptional Children (1993;25(4):18-22) menjelaskan bahwa kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan minat pribadi seseorang dalam proses belajar.  Jadi dengan kata lain, saat anak terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi.

Beberapa pertanyaan berikut mungkin dapat membantu kita sebagai pendidik ketika berpikir akan mendorong keterlibatan mereka.

1. Sejauh mana orang tua telah memahami visi dan misi sekolah kita terkait dengan upaya kita menumbuhkan kepemimpinan anak? Apakah mereka memahami apa yang kita maksud dengan voice, choice, dan ownership? Apa yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan pemahaman mereka?

2. Apakah keterlibatan orangtua dalam program/kegiatan pembelajaran di kelas atau sekolah kita selama ini telah mendorong dan menguatkan voice, choice, dan ownership anak, atau justru sebaliknya melemahkannya? (misalnya apakah orang tua justru mengambil peran yang seharusnya dapat dilakukan oleh anak dengan dalih ‘ingin membantu’?)

3. Kesempatan-kesempatan apa sajakah yang telah kita berikan kepada orang tua untuk terlibat dalam program/kegiatan pembelajaran (baik intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstra kurikuler) yang kita lakukan di kelas atau sekolah? Sejauh mana kesempatan tersebut ditujukan untuk mendorong  voice, choice, dan ownership anak dan membantu terwujudnya kepemimpinan anak?

4. Apa yang sudah kita lakukan untuk membuat orangtua memahami apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak mereka dalam program/kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas atau sekolah? ( sehingga mereka dapat terlibat dalam percakapan atau komunikasi yang otentik dan relevan dengan anak-anak mereka terkait dengan apa yang sedang dipelajari oleh mereka di sekolah)

Beberapa contoh strategi yang dapat kita lakukan untuk melibatkan keluarga dalam program/kegiatan pembelajaran anak untuk menumbuhkan kepemimpinan anak, antara lain:

1. Memastikan orang tua memahami visi dan misi  sekolah  dalam mewujudkan kepemimpinan anak (misalnya dengan mensosialisasikan apa yang dimaksud dengan voice, choice, dan ownership kepada orangtua)

2. Secara aktif melibatkan orang tua untuk membantu menyediakan dukungan dan akses ke sumber-sumber belajar yang lebih luas  untuk membantu mewujudkan suara atau pilihan anak (misalnya meminta bantuan orang tua untuk mengkoneksikan anak yang ingin mengakses masyarakat, lingkungan sekitar, atau dunia usaha atau akses-akses lain yang mungkin sulit untuk dijangkau anak atau sekolah, dsb).

3. Mengadakan workshop atau sesi-sesi informasi yang dapat membantu orang tua memahami pendekatan pembelajaran yang kita lakukan di sekolah (misalnya melalui pelatihan orangtua tentang cara bertanya kepada anak, tentang bagaimana berkomunikasi secara positif, tentang pentingnya ‘suara’, ‘pilihan’, dan ‘kepemilikan’, dan sebagainya, sehingga  bisa terapkan di rumah).

4. Mengadakan berbagai aktivitas yang memberikan kesempatan bagi anak untuk menunjukkan dan mendemonstrasikan hasil belajar atau pemahaman mereka kepada orang tua dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa pencapaian, kepercayaan diri, kemandirian, dan berbagai sikap positif lainnya (misalnya dengan mengundang orang tua untuk menghadiri perayaan, eksibisi atau pameran hasil karya, assembly, pentas seni).

5. Mendorong orang tua untuk mengajak anak-anak mereka ke tempat-tempat yang dapat menumbuhkan rasa empati, mengekspos anak dalam kegiatan pelayanan kepada masyarakat, dsb.

6. Mendorong, mempromosikan dan mengapresiasi upaya orangtua dalam membangun kemandirian, resiliensi, dan tanggung jawab  anak (misalnya dengan guru memberikan komentar positif di buku penghubung anak, dsb).

7. Melibatkan orang tua pada kegiatan-kegiatan non akademis/bukan pembelajaran di kelas/sekolah agar rasa kepemilikan lebih terbangun.

 

Dengan melibatkan orang tua anak dalam kegiatan yang diadakan sekolah, misalnya bazar atau pameran dalam rangka HUT sekolah merupakan salah satu contoh sarana untuk menumbuhkembangkan suara, pilihan dan kepemimpinan anak.

 

 

Referensi :

Modul 3 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan ke-4

https://radarsemarang.jawapos.com/artikel/untukmu-guruku/2020/07/29/pentingnya-pendidikan-keluarga-dalam-membentuk-karakter-anak/

 

 

 

 

 

 


Rabu, 11 Januari 2023

9 KUNCI SUKSES MENJALANI HIDUP


 9 KUNCI SUKSES MENJALANI HIDUP

Izatul Laela, S.Si

Pendidik di SMPN 2 Wonorejo

 

Kehidupan yang kita jalani tidak selamanya berjalan dengan mulus dan lancar. Pasti ada berbagai macam ujian kehidupan yang kita alami. Oleh karena itu, dibutuhkan bekal yang cukup agar dapat menjalaninya dengan baik.

Sebenarnya ada banyak sekali tips atau kunci agar sukses dalam menjalani kehidupan dengan berbagai macam pernak perniknya. Pada tulisan ini penulis merangkumnya menjadi 9 kunci sukses menjalani hidup, yaitu:

1. Sabar

Sabar secara bahasa berarti al habsu yaitu menahan diri. Sedangkan secara syar'i, sabar adalah menahan diri dalam tiga perkara : (1) ketaatan kepada Allah, (2) hal-hal yang diharamkan, (3) takdir Allah yang dirasa pahit (musibah).

Sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa dalam melakukan ketaatan itu butuh kesabaran yang terus menerus dijaga karena :

(1) Ketaatan itu akan membebani seseorang dan mewajibkan sesuatu pada jiwanya,

(2) Ketaatan itu terasa berat bagi jiwa, karena ketaatan itu hampir sama dengan meninggalkan maksiat yaitu terasa berat bagi jiwa yang selalu memerintahkan pada keburukan. 

 

Sabar dalam hal-hal yang diharamkan

Jjiwa seseorang terkadang memerintahkan dan mengajak kepada kejelekan, maka hendaklah seseorang menahan diri dari perbuatan-perbuatan haram. Seseorang harus menahan diri dari hal-hal semacam ini sampai dia tidak lagi mengerjakannya dan ini tentu saja membutuhkan pemaksaan diri dan menahan diri dari hawa nafsu yang mencekam.

 

Sabar terhadap taqdir Allah yang dirasa pahit (musibah)

Taqdir Allah ada dua macam yaitu menyenangkan dan tersa pahit (menyedihkan). Menyikapi taqdir yang menyenangkan sudah menjadi kewajiban kita sebagai muslim untuk bersyukur, sedangkan menghadapi taqdir yang menyedihkan kita harus bersabar dengan menahan diri jangan sampai menampakkan kegelisahan pada lisan, hati, atau anggota badan atau bahkan menyakiti diri sendiri.

 

2. Syukur

Kata Syukur berasal dari bahasa Arab yang berarti berterima kasih. Bersyukur berarti kita berterimakasih kepada Allah Swt. atas karunia yang dianugerahkan Allah Swt. kepada dirinya.

Sedangkan menurut istilah syukur ialah memberikan pujian kepada Allah dengan cara taat kepada-Nya, tunduk dan berserah diri hanya kepada Allah Swt. serta beramar makruf nahi munkar.

Merujuk pada pengertian iman, yaitu meyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka bentuk syukur juga ada 3 yaitu:

Bersyukur dengan hati

Meyakini bahwa semua nikmat yang kita terima adalah dari Allah SWT, tidak ada yang dapat memberikan kenikmatan selain Dia.

Bersyukur dengan lisan

Mengungkapkan rasa syukur melalui ucapan yaitu mengucapkan alhamdulillah, bahwa segala puji hanyalah milik Allah SWT. Tidak lupa pula mengucapkan doa dari setiap perbuatan yang kita lakukan, saat mau memulai maupun setelah mengerjakannya. Meyakini dengan hati bahwa semua dapat kita lakukan atas izin Allah SWT.

Bersyukur dengan perbuatan

Wujud syukur dengan perbuatan dapat dilakukan dengan cara menggunakan anggota tubuh untuk hal-hal terpuji. Menuntut ilmu, bersilaturrahim, berdakwah, dan sebagainya.

Dapat pula diwujudkan melalui harta yang diperoleh dimanfaatkan atau didermakan di jalan Allah. Menyantuni anak yatim, fakir miskin, pembangunan masjid, dan segala macam bentuk shadaqah lainnya.

Jika nikmat yang diperoleh berupa ilmu maka tidak segan untuk berbagi ilmu dan digunakan untuk kemashlahatan dan manfaat bagi sesama dan alam sekitarnya, bukan untuk kepentingan pribadi dan atau untuk membuat kerusakan di muka bumi.

3. Ikhlas

Ikhlas adalah suatu niat murni dan tulus di mana dalam mengerjakan segala sesuatu tidak lain untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menurut ilmu tasawuf, ikhlas juga dipahami sebagai pengunggalan dari Al Haqq, di mana mengarahkan segala sesuatu untuk orientasi ketaatan, semata-mata hanya karena Allah.

Ikhlas juga disebut sebagai rahasia antara Allah dan hambanya, bahkan tidak ada malaikat yang mengetahui dan mencatatnya, tidak ada syetan yang mengetahui dan merusaknya, tidak ada pula hawa nafsu yang mengetahui lalu menyondongkan ke hal lain yang buruk.

Adapun tanda-tanda orang yang ikhlas antara lain yaitu:

1. Menganggap antara pujian dan celaan adalah hal yang sama

2. Tidak mengingat hal baik yang telah dilakukan

3. Dalam mengerjakan amalan terbebas dari niat buruk dan hal-hal negatif lainnya yang mengurangi kemurnian dan ketulusannya.

Tingkatan ikhlas

Terdapat 3 tingkatan ikhlas yaitu:

1. Tingkatan ikhlas terendah adalah ketika orang beribadah karena Allah namun memiliki harapan untuk mendapat imbalan duniawi dengan ibadah yang dilakukan tersebut. Misalnya, seseorang rajin menunaikan sholat dhuha dengan harapan agar mendapatkan kemudahan rejeki.

2. Tingkatan kedua yaitu orang yang melakukan amal ibadah karena Allah namun masih memiliki keinginan agar ibadahnya kelak bisa mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT

3.  Tingkatan paling tinggi adalah ketika seseorang melakukan amal ibadah tanpa adanya keinginan, dan hanya ingin melakukannya semata-mata karena Allah. Bahwa ia melakukan ibadah sebagai upaya untuk melakukan perintah yang diberikan oleh Allah, bukan untuk mencari pujian, harta, kecintaan, dan lain sebagainya.

4. Husnudzon

Husnudzon atau prasangka baik berasal dari kata Arab yaitu husnu yang artinya baik, dan dzan yang artinya prasangka. Jadi prasangka baik atau positive thinking dalam terminologi Islam dikenal dengan istilah husnudzon. Secara istilah, husnudzon adalah sikap orang yang selalu berpikir positif terhadap apa yang telah diperbuat oleh orang lain.

Dalam ilmu akhlak, husnudzon dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu:

1. Husnudzon kepada Allah Swt, yakni dengan cara berprasangka baik dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT.

2. Husnudzon kepada diri sendiri, dengan cara percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri.

3. Husnudzon kepada orang lain, dengan cara semua orang dipandang baik sebelum terbukti kesalahan atau kekeliruannya, sehingga tidak menimbulkan kekacauan.  

Sikap husnudzon akan melahirkan keyakinan bahwa segala kenikmatan dan kebaikan yang diterima manusia berasal dari Allah, sedangkan keburukan yang menimpa manusia disebabkan dosa dan kemaksiatannya. Selain itu, membiasakan perilaku husnudzon  dalam kehidupan sehari-hari juga dapat menimbulkan sifat-sifat yang baik dalam diri. 

5.Tawadhu’

Tawadhu merupakan salah satu akhlak baik yang harus senantiasa dilakukan oleh umat islam. Adapun nama lain dari tawadhu ialah sikap rendah hati, namun bukan berarti rendah diri. Tawadhu dapat diartikan sebagai sebuah tindakan yang percaya diri, optimis, berani, serta tidak merasa diri kita lebih baik dari orang lain sekalipun memiliki banyak kelebihan.

Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitab Risalatul Muawanah wal Mudhaharah wal Muwazarah tanda-tanda orang yang memiliki sifat tawadhu ialah sebagai berikut:

1. Seseorang yang memiliki sikap tawadhu ialah mereka yang lebih senang tidak dikenal daripada menjadi orang terkenal

2. Bersedia menerima kebenaran dari siapapun, baik dari kalangan orang terpandang maupun dari kalangan orang yang rendah kedudukannya

3. Mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan duduk bersama mereka

4. Selalu bersedia untuk mementingkan kepentingan orang lain dan senang ketika dimintai pertolongan

6. Istiqamah

Istiqomah berarti sikap kukuh pada pendirian dan konsekuen dalam tindakan. Dalam makna yang luas, istiqomah adalah sikap teguh dalam melakukan suatu kebaikan, membela dan mempertahankan keimanan dan keislaman, walaupun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.

Seseorang yang mempunyai sifat istiqamah bagaikan batu karang yang berada di tengah-tengah lautan yang tidak tergeser sedikit pun, meskipun dihantam oleh gelombang yang sangat besar.Istiqomah terwujud karena adanya keyakinan akan kebenaran dan siap menanggung risiko.

Di antara hikmah perilaku istiqomah adalah sebagai berikut:

1. Orang yang istiqomah akan dijauhkan oleh Allah Swt. dari rasa takut dan sedih sehingga dapat mengatasi rasa sedih yang menimpanya, tidak hanyut dibawa kesedihan dan tidak gentar dalam menghadapi kehidupan masa yang akan datang.

2. Orang yang istiqomah akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan di dunia karena ia tekun dan ulet.

3. Orang yang istiqomah dan selalu sabar serta mendirikan salat  akan selalu dilindungi oleh Allah swt.

7. Qana’ah

Kata Qanaah berasal dari bahasa Arab Qana’a-yaqna’u-qana’an-qanaa’atan, yang berarti suka menerima yang dibagikan kepadanya, rela. Secara istilah Qana’ah berarti menerima keputusan Allah Swt. dengan tidak mengeluh, merasa puas dan penuh keridhaan atas keputusan Allah Swt., serta senantiasa tetap berusaha sampai batas maksimal kemampuannya. Dengan sikap inilah maka jiwa akan menjadi tentram dan terjauh dari sifat serakah atau tamak. Orang yang bersikap qanaah, ia rela menerima kenyataan hidup yang dialami, tidak berkeluh kesah, tidak mengangan-angan kesenangan yang diterima orang lain.

Qanaah bukan berarti diam berpangku tangan dan bermalas-malasan tidak mau meningkatkan kesejahteraan hidup tapi sesungguhnya orang yang qana’ah adalah orang yang sangat kuat dan bersahaja, dia giat berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan yang dicita-citakan. Namun apabila menemui kegagalan dia tidak pernah berputus asa dan kecewa, bahkan ia selalu sabar dan husnuzhan dengan keputusan Allah, karena dia punya keyakinan bahwa di balik semua peristiwa dalam hidup pasti ada hikmahnya.

8. Zuhud

Secara bahasa, zuhud berasal dari bahasa Arab yang artinya tidak ingin terhadap sesuatu atau meninggalkannya. Sedangkan secara istilah, pengertian zuhud adalah pola hidup dalam menjaga diri dari ketergantungan duniawi, sehingga hanya akan fokus pada akhirat. 

Bersikap zuhud tidak berarti lantas membenci harta dan menjalani laku hidup berkekurangan, melainkan tidak terlena terhadap kehidupan dunia. Artinya zuhud adalah bersikap minimalis, dan tidak membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan.

Dikutip dari Tri Wahyu Hidayati (2016), ciri-ciri orang yang zuhud antara lain:

1. Mengetahui bahwa kehidupan dan kesenangan dunia hanyalah sementara.

2. Mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu kekal dan lebih baik.

3. Memandang bahwa dunia adalah tempat untuk menyiapkan kehidupan akhirat.

4. Mengeluarkan dari hati kecintaan pada dunia.

5. Memasukkan kecintaan pada Allah.

6. Melepaskan diri dari ketergantungan pada makhluk.

7. Mempunyai anggapan bahwa kebahagiaan bukan diukur dari materi, namun dari spiritualitas.

8. Memandang bahwa harta dan jabatan adalah amanah untuk manfaat orang banyak.

9. Menggunakan harta untuk berinfak di jalan Allah SWT.

10. Meninggalkan hal-hal yang berlebihan meskipun halal.

11. Menunjukkan sikap hemat, hidup sederhana, dan menghindari bermewah-mewahan.

12. Menjaga anggota tubuh agar terhindar dari segala yang dapat menjauhkan diri dari Allah SWT (Misalnya menjaga dari bicara kotor, selalu menyebut nama Allah SWT, menjaga pandangan, dan lain sebagainya).

9.Tawakkal

Tawakkal berasal dari kata وكل (wakala) yang berarti menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan urusan kita kepada orang lain. Dalam kaitan ini penyerahan tersebut adalah kepada Allah Swt. Tujuannya, untuk mendapat kemashlahatan dan menghilangkan kemudharatan.

Secara istilah arti tawakkal adalah menyerahkan suatu urusan kepada kebijakan Allah Swt., yang mengatur segalanya-galanya. Berserah diri (tawakkal) kepada Allah Swt. adalah salah satu perkara yang diwajibkan dalam ajaran agama Islam. Berserah diri (tawakkal) kepada Allah Swt. dilakukan oleh seorang muslim apabila sudah melaksanakan Ikhtiar (usaha) secara maksimal dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuannya.

Tawakkal dilaksanakan setelah manusia melakukan iktiar dengan maksimal, maka tawakal kepada Allah Swt. tidak dibenarkan apabila menyerahkan (tawakkal) segala urusan kepada Allah Swt. sebelum melaksanakan usaha semaksimal mungkin. Demikian juga tawakkal yang ditujukan kepada selain Allah Swt. termasuk perbuatan syirik yang harus dijauhi oleh setiap orang yang beriman.

Manusia harus menyadari bahwa dirinya lemah. Hal ini terbukti bahwa banyak orang yang mengalami kegagalan dan tidak berhasil memenuhi harapannya. Keberhasilan usaha seseorang terletak pada kuasa dan kehendak Allah Swt. Oleh sebab itu manusia harus sadar bahwa ia harus bertawakal kepada Allah setelah ia berusaha dengan maksimal. Orang bertawakal berarti menunggu keberhasilan apa yang diusahakannya. Oleh sebab itu, di saat tawakal hendaknya meningkatkan intensitas do’a nya kepada Allah Swt. agar apa yang diinginkan akan berhasil dengan baik.

 

Referensi:

https://fkg.unimus.ac.id/2018/04/3-macam-sabar-menurut-ulama/

https://an-nur.ac.id/pengertian-syukur-dalil-contoh-dan-dampak-positifnya/

https://www.merdeka.com/jateng/pengertian-ikhlas-dalam-islam-pahami-tingkatannya-kln.html

https://tirto.id/pengertian-husnudzon-dan-contoh-perilakunya-dalam-islam-gaXa

https://www.merdeka.com/jateng/arti-tawadhu-dalam-islam-beserta-manfaatnya-untuk-kehidupan-sehari-hari-kln.html

https://an-nur.ac.id/pengertian-qanaah-dalil-contoh-dan-hikmahnya/

https://hot.liputan6.com/read/4697605/pengertian-zuhud-ciri-ciri-keutamaan-dan-contoh-perilakunya-yang-wajib-diketahui

https://an-nur.ac.id/pengertian-tawakal-dalil-contoh-dan-dampak-positifnya/

https://an-nur.ac.id/pengertian-istiqomah-hikmah-perilaku-istiqomah-dan-wujud-perilaku-istiqomah-dalam-kehidupan-sehari-hari/